Rabu, 11 Juni 2014

Tugas Bahasa Indonesia


DOSA TERINDAH

Aku mengenalnya di suatu pelatihan beberapa tahun silam, awalnya aku sudah tertarik, entah apa yang aku pikirkan, seakan aku tidak menyadari statusku saat aku bertemu dengannya, ia membalas sama denganku, hari demi hari kami lalui bersama, kembali seakan-akan kami masih anak sekolahan yang duduk di bangku SMA, kami menghabiskan waktu dengan bercanda, tertawa saling ejek dan bahkan hal yang tidak pernah kami sadari berapa usia kami saat itu, saat ini usia kami sudah berkepala tiga, terkadang ada waktu dimana kami libur pelatihan satu hari, kami menyempatkan nonton bioskop dan jalan-jalan ke pusat kota, tawa canda sama persis anak SMA yang sedang pacaran, indah sekali.
Di ujung pelatihan itu, kami berkumpul sekedar membuat acara kecil sebagai perpisahan, semua bahagia, tertawa, berjoget, dah bahkan di antara mereka saling bercerita tentang kesan mereka selama 3 minggu bersama.
Rafa, namanya seperti anak kecil, karena matanya yang bulat, aku punya julukan sendiri “sapi” hahahahaha, aku begitu suka memanggilnya begitu, bahkan teman-teman ku pun tak lepas memanggilnya begitu, seakan tak mau kalah, ia memanggilku “penyu” entah dasar apa ia memanggilku dengan embeem,
“Mbeem ikut aku yuk” ia menarik tangan ku, dan kami berlalu dari kerumunan teman-teman kami, ia mengajak ku ke lantai atas gedung tempat kami menginap
“Ngapain?”
“Pengen ngabisin malam ini sama kamu” aku terkejut bukan kepalang ia berkata begitu “Hahahaha… jangan jorok ya” spontannya membuat aku malu akan pikiran jelekku. “habisnya kata-katamu” jawabku tertawa geli. ia menarikku ke sebuah bangku
“Mbeem, cepet banget ya, kaya baru  kemarin kita ketemu”
“Memangnya kenapa?!” jawabku
“Rasanya aku enggak pengen balik, masih pengen sama temen-temen, terutama kamu”
“Ya jelaslah.. aku kan orang paling ngangenin” jawabku sedikit membanggakan. dia tertawa, kemudian menarik hidung ku yang sedikit pesek,
“Aku baru tau… ternyata kota kecil tempat kita, nyimpen orang yang paling gemesin”
“Siapa?” tanyaku penuh harap
“Tutik” Tutik teman kita satu-satunya kelompok kita yang masih berstatus lajang
“Hahahahaha aku pikir kamu bilang aku” dia berhenti terseyum, ia menatapku
“Ya pastinya kamu lah mbeem”
“Masa? tadi bilang tutik, ayo jangan-jangan kamu naksir dia?!”
“Dosa enggak ya? kalau aku suka sama kamu?”
Aku terdiam mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Rafa
aku mencoba mengatur perasaan yang bergejolak dalam diriku, jujur aku sangat menikmati kebersamaan ku bersama Rafa, tetapi di kehidupan ku sebenarnya ada suami serta anak yang sangat mencintaiku. Tino perlahan menatapku, ia berdiri tepat di hadapanku, mulai menggenggam tanganku, dan aku tak sedikitpun menolaknya
“Maafkan aku ya, aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ku, aku sayang sama kamu”
Aku masih berdiri dalam diamku
“Suamimu pasti sangat mencintaimu, dan aku tau betapa kamu sangat berharga untuknya” ucapnya
“Aku tau… dan kamu tidak perlu membalas rasa sayangku ke kamu, kebersamaan kita selama ini, sudah cukup untuk aku merasakan kebahagian yang ku cari, kamu tidak hanya membuatku tersenyum, tapi.. aku juga merasakan aku yang sebenarnya bila sama kamu, aku hanya menyesalakan, kenapa kita harus bertemu disaat ikatan telah mengekang kita, mbeem… masihkah kamu akan menghubungi ku setelah berakhirnya semua ini?”
Aku masih terpaku dalam kegelisahan ku
“Rafa, aku sangat bahagia dengan suamiku, dia adalah pria yang tidak pernah menyakiti ku sampai detik ini, dia tidak merubah apapun tentangku selama ini, tapi.. aku juga tidak bisa memungkiri perasaan ku terhadapmu, selama 3 minggu ini, aku bisa melupakan kebahagian bersama suamiku, aku menemukan sesuatu yang lain yang belum pernah kurasakan selama ini, tapi… aku tidak bisa menyakiti suami dan juga istrimu, karena aku juga belum yakin, kau kelak akan membahagiakan ku seperti suami ku membahagiakanku, dan aku juga tak bisa menjanjikan kebahagiaan seperti istrimu, biarlah ini cerita terindah dalam diri kita, simpanlah aku sebagai kenangan indah untukmu”
Tino menatapku dalam, perlahan ia mendekatiku, ia merengkuh jemariku, membelai wajahku, ia tersenyum, membuat aku ingin menghentikan waktu saat itu, ia mencium bibirku, ciuman yang hangat bukan ciuman nafsu, ia terus mendekapkan daun bibirnya di tepi daun bibirku, kami berpelukan, ia mendekapku erat. aku mulai hanyut dalam perasaanya,
“Rafa, maaf, ini kesalahan besar,  jangan diteruskan”
Aku menghindarinya, aku sedikit mundur beberapa langkah dari hadapannya. namun langkahku terhenti oleh rengkuhan tangannya
“Mbeem… maafkan aku”
Aku menghentikan langkahku dan membangkitkan keberanian ku untuk menatapnya
“Rafa, aku cinta sama kamu, tapi aku bisa menodai kebahagiaan keluargaku, aku mengerti, aku pun sangat mencintaimu, dan aku tak ingin kamu terluka oleh cintaku, biarlah kita kembali seperti awal. Terima kasih tino, terima kasih atas semuanya, atas kenangan yang tak terbatas ini, atas rasa yang tak tercipta ini, aku minta satu hal, tetaplah menjadi tino yang aku kenal saat ini, kapanpun kita ditakdirkan bertemu kembali, tetaplah menjadi Rafa, pendamlah rasa ini, biarlah ia akan mati dengan sendirinya”.

Tino tersenyum kembali, ia menggapai tangan ku, dan mengajakku kembali ke tempat teman-teman berkumpul.

Tugas Bahasa Indonesia


SENDU


Ku terdiam di sudut ruangan menyandarkan tubuhku yang kurasakan amat lelah. Lututku ku tekuk kemudian ku peluk. Pandanganku kosong. Aku sibuk menikmati suasana hati yang bergemuruh. Teringat semua ucapan Mama yang berhasil membuatku terkoyak. Aku tak akan bisa setegar Mama menghadapi ini. Perlahan air mataku menetes membasahi pipiku. Aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi padaku, pada keluargaku.
Dengan berat aku melangkahkan kakiku menuju gedung megah yang dihiasi kain serba putih. Terlihat beraneka macam rangkaian bunga disana. Di sekitarku banyak sekali orang yang berusaha masuk ke dalam gedung tersebut. Mama meraih tanganku lalu dipegangnya erat-erat seolah ia berusaha menegarkanku menghadapi semua ini. Dengan sangat enggan aku mengikuti langkah mama memasuki ruangan yang sangat megah itu. Mataku menangkap sesosok laki-laki yang dulu amat berarti bagiku duduk di kursi singgasana bak seorang raja. Di sampingnya duduk manis seorang wanita, perenggut kebahagiaanku. Papaku telah memilih meninggalkanku dan Mama demi wanita bejat tersebut. Setetes air bening menggenang di sudut mataku, namun aku mencoba menahannya agar tak jatuh di pipiku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri tak akan pernah meneteskan air mataku untuk lelaki pengkhianat itu. Aku sadar tak seharusnya aku bersikap seperti itu, namun kekecewaan yang begitu dalam membuatku sulit untuk memaafkannya, amat sangat sulit.
Mama menghentikan langkahnya. Kulirik Mama, kutatap wajah sendunya. Tatapannya lurus mengarah pada lelaki bejat itu. Namun tak kulihat ada setitik kebencian pun di raut wajahnya. Oh Ma, andaikan aku bisa setegar engkau. Mama menghela nafas berat. Aku tahu ia sedang berusaha mengatur perasaannya. Aku tau ada segurat luka di hatinya yang pasti lebih dalam daripada luka di hatiku. Ingin ku ucapkan sepatah kata penghibur hati untuknya, namun mulut ini tetap terbungkam tak mampu untuk mengucapkannya. Mama mulai menarik tanganku mengajakku melangkah kembali. Ku ikuti langkah kakinya. Kini Mama mengajakku mendekati lelaki dan wanita bejat itu. Jika bukan karena Mama, aku tak akan sudi bertemu dengannya lagi.
“Selamat ya mas, semoga apa yang telah engkau pilih ini adalah yang terbaik untukmu. Akan ku do’akan semoga hidupmu yang baru nanti penuh dengan kebahagiaan. Dan aku minta do’amu agar kelak aku dan Sasha menemukan jalan kebahagiaan kami .
Mama menyalami lelaki bejat itu. Kutatap wajah wanita bejat di sampingnya. Angkuh. Di wajahnya tersirat seulas senyum jahat yang sarat dengan kemenangan. Kemudian kutatap wajah lelaki bejat itu, berbeda. Rasa hormatku yang dulu amat besar untuknya, sosok Papa yang sangat aku banggakan, yang sangat aku sayangi, kini telah hilang. Seolah tak ada rasa hormat lagi untuknya.

“Iya Han, semoga engkau mendapatkan yang terbaik, lelaki yang bertanggungjawab dan menyayangi keluarga. Terimakasih ya Han sudah meluangkan waktu untuk hadir di pernikahanku.” Lelaki bejat itu menyambut tangan. Sejurus kemudian ia memandangku. Secepat kilat aku mengalihkan pandanganku. Enggan aku bertatapan muka dengannya. Hanya akan menambah luka di hatiku saja.

“Sasha tak ingin bersalaman dengan Papa?” kalimat itu terlontar dari mulut besarnya. Aku tak sanggup lagi. Kusentakkan tanganku hingga terlepas dari genggaman Mama. Aku berlari sekuat tenaga. Masih kudengar teriakan Mama memanggil namaku ketika aku keluar dari gedung tersebut. Aku tak sanggup, benar-benar tak sanggup. Setetes kristal bening mengalir di pipiku. Aku terus berlari membawa kepedihan hati ini. Entah kemana arahku berlari, yang pasti aku hanya mengikuti kemana kaki ini akan melangkah.
Aku menghentikan langkahku di tepi danau. Air mataku semakin deras. Hatiku terasa perih. Tak sanggup aku melewati semua ini. Sesaat terlintas bayangan Mama di benakku. “maafkan Sasha, Ma. Maafkan, aku benar-benar tak sanggup.” Mama pasti kecewa. Amat sangat kecewa. Terlalu berat beban yang harus aku pikul. Ku pejamkan mataku. Ku hirup dalam-dalam udara sekitar danau. Tenang, aku merasa tenang. Nyaman sekali. Ku buka mataku, ku pandang segala sesuatu yang ada di hadapanku. Ajaib, sangat indah. Sudah sejak satu jam yang lalu aku duduk disini, baru ku sadari betapa indahnya tempat ini. Aku memandang dalam kejauhan. Terbayang sosok Papa yang dulu ku kenal. Begitu berwibawa dan bertanggungjawab. Disela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan waktu untuk keluarga. Setiap ada kesempatan berlibur, ia selalu menanyakan kepadaku tempat apa yang ingin aku kunjungi. Aku merasa akulah satu-satunya orang yang paling bahagia di dunia. Aku mempunyai apapun yang di inginkan semua orang. Aku memiliki keluarga yang sangat peduli kepadaku, rumah megah, mobil mewah, berbagai macam mainan modern, aku memiliki semuanya. Aku pun bisa pergi keliling dunia kemanapun aku mau bersama orang-orang tercintaku, Mama dan Papa. Tiupan angin menyadarkan lamunanku. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Mataku terbelalak. Sudah sesore ini? Aku beranjak pergi, meninggalkan tempat yang indah ini. Mama pasti menghawatirkanku.
Ku langkahkan kaki menuju halaman rumahku. Sejenak aku berhenti. Kupandangi kursi hias di tengah taman depan rumahku. Terlihat sekelebat bayangan masa lalu. Masa kecilku yang bahagia, bercanda ria bersama mama papa. Meskipun aku tak punya saudara, namun aku cukup bahagia karena aku dilimpahi kekayaan yang luar biasa dan keluarga harmonis. Disitu, di kursi itu, kami sering duduk bertiga bercanda ria mengurai tawa. Papa yang hebat, yang selalu kubanggakan, sosok pahlawan bagiku, dan berwibawa di hadapan semua orang. Hanya tinggal kenangan. Aku tak ingin mengeluarkan air mataku lagi. Perlahan aku meninggalkan taman, beranjak melangkahkan kaki melewati halaman rumahku yang begitu luas.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan. Kudapati Mama sedang berdiri di depan jendela yang berhadapan langsung dengan taman. Kudekati Mama.
“Maafin Sasha, Ma. Ara tahu Mama sangat kecewa dengan sikap Sasha tadi. Ingin sekali Sasha mengikuti keinginan Mama untuk menghormati Papa. Namun sulit Ma, gejolak hati Sasha mengatakan tidak. Sasha tak sanggup.” Ku peluk Mama dari belakang. Pinggulnya kini tak seberisi dulu ketika aku masih sering sekali memeluknya, ketika Papa masih ada di tengah-tengah kami. Tubuhnya kini semakin kurus. Mama membalikkan badannya, menarik tanganku.

“Mama mengerti perasaanmu Sasha. Tak mudah bagimu menerima semua ini. Namun ini semua kenyataan, ini yang terjadi. Kamu harus menerimanya dengan ikhlas.” Mama mengusap air mataku. Air mata itu mengalir begitu saja di pipiku. Kupeluk Mama erat-erat. Kubisikkan sebuah kalimat di telinganya. “andaikan aku setegar Mama.”
Aku bersimpuh di atas sajadah merahku. Kubiarkan tangisku pecah malam itu. Mengadukan nasib dan keadaanku kepada penciptaku. Aku tahu semua ini adalah takdirnya.
“Ya Allah yang maha pengasih penyayang, yang maha pemurah, yang maha adil, yang maha segalanya. Hamba ini hanyalah seorang yang lemah, yang tak akan mampu menjalani hidup tanpa rahmat dan hidayahMu. Hamba tau semua ini adalah yang terbaik untuk hamba. Engkau biarkan hamba mengerti semua itu, namun kenapa tak Kau biarkan hamba mengerti tentang keikhlasan ya Allah. Ikhlaskanlah hati hamba Ya Allah, kuatkanlah hamba menghadapi semua ini. Engkaulah yang maha membolak balikkan hati ya Allah. Hanya kepadaMu lah hamba memohon pertolongan. Robbana aatina fiddunya khasannah wafil akhiroti khasannah waqinaa ‘adzaa bannar.” Aku bersujud di atas sajadahku. Menangis tersedu-sedu. Gemuruh angin kencang malam ini, menemani sujud panjangku. Aku tahu Allah mendengar do’aku. Dan itu pasti.
Kusambut kehidupan baruku. Hanya ada aku, Mama, pekerjaanku, dan Tuhanku. Aku akan mencoba mensyukuri apa yang telah aku punya, mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Kini aku mengerti bahwa yang telah hilang itu memang bukan hakku. Aku tersenyum memandang dunia. Ya, awal dari segalanya, tak akan pernah kubiarkan senyum ini sirna kembali.


Sabtu, 17 Mei 2014

Tugas Bahasa Indonesia



NEGERI
     “Ketika ibumu masih berlarian dengan mainan, depan rumah ini banyak berderet pepohonan. Mangga, sawo, bahkan perdu warna-warni. Rindang daunnya itu, seperti geraian rambut bidadari. Hingga kita bisa lihat, cahaya matahari seperti mengajak bermain. Ia datang dan sembunyi diantara helaian daun tua dan muda. Sekarang sudah tidak. Entah mengapa. Mungkin karena negara kita terus mengejar kemajuan Amerika. Kau pasti banyak tahu hal itu di sekolah. Manusianya pun sudah sesak. Hingga betul, perlu pembangunan di berbagai bidang. Yang harus mengorbankan keindahan, lebih jahatnya lagi, harus rela mengorbankan kenangan-kenangan yang terjadi di tempat kejadian. Oh ya, maaf kebablasan waé. Sana sekolah. Belajar yang benar!”
      Dapat dipastikan, setiap pagi, di depan rumahku ini Kakek duduk di hadapan kopi tanpa gula apalagi duka, roti tanpa selai nanas, hanya diisi dengan seoles mentega kasih sayang. Ia makan sambil membaca koran. Kakek memang pembaca koran sejati. Tapi bagiku, ia lebih sebagai juru cerita yang baik hati. Dari mulutnya selalu mengalir  cerita yang berbeda. Semuanya dirangkai dengan indah. Mungkin karena dulunya ia pujangga. Mungkin karena itu pula Nenek jatuh cinta. Tapi, cerita seringkali membuat Kakek lupa, bahwa aku harus pergi ke sekolah. Seperti tadi.
       “Tapi hari ini aku tak akan masuk sekolah Kek. Siang nanti aku akan pergi ke Bogor untuk kompetisi.”
      “Oh ya? Kamu ini memang pintar, baik pula.” pujiannya selalu membuatku tersipu. Ingin balik memuji, tapi apa yang harus kuucapkan pertama kali? Sementara Kakek kembali menyambar, berbicara.
       “Bagaimana kalau kita menanam pohon pagi ini, Nak?”
       Kali ini aku memberanikan diri untuk melawan. Tak ingin ia mendapat kekecewaan.
       “Aduh Kek, kan siang nanti aku berangkat. Takut lelah.”
       “Menanam pohon tak menghabiskan tenaga banyak. Hanya perlu keikhlasan untuk mengobati lelahnya.”
      Harus kucari alasan lain agar hal itu tak terjadi. Aku tak mau Kakek tahu. Biarlah ia kira masih baik segalanya, masih baik alam depan rumahnya.
     “Tetap saja Kek akan lelah, hehe. Lagipula banyak hal yang harus aku persiapkan. Bibit pohonnya juga kan belum ada, Kek.”
      “Tetangga kita, Pak Dodo, pegawai Kehutanan itu, punya banyak bibit pohon di halaman rumahnya. Tak apalah jika kita minta barang satu atau dua pohon. Kamu akan lama di Bogor? Siapa tahu ini pagi terakhir sama Kakek.”
      Kali ini aku tak bisa. Perkataan terakhirnya. Siapa tahu ini pagi terakhir bersama Kakek.  Membuat kuduk takut. Dengan sendirinya tanganku mulai merangkul Kakek. Membawanya keluar. Melihat kehancuran.
       Ya, sebuah kehancuran bagi hatinya yang damai dan penuh harapan. Tepat malam tadi, ada tamu datang ke rumahku. Katanya dari sebuah Lembaga Pemerintahan. Mereka datang dengan membawa beberapa bingkisan. Aku mendengar samar, Ia berkata pada Ayah bahwa besok penggalian akan sampai ke depan rumahku. Dan meminta izin untuk menggali jalan masuk ke rumahku. Ia mengeluarkan segala keterangan, tapi Ayah hanya balas dengan senyuman. Tentu, senyuman satu-satunya jalan untuk melakukan perlawanan. Untungnya Kakek sedang berada di kamarnya. Diam, entah ngaji, atau melihati foto Nenek yang baginya kian hari kian menarik, kian cantik.
      Penggalian itu. Penggalian oleh manusia hitam besar. Mesin dengan mata pisau tajam. Dan pipa-pipa besi besar yang ditembuskan kedalam tanah. Tanah takbisa melawan, hanya pasrah pada keperkasaan para penggali dengan mesin yang tajam sekali, dan kuatnya pipa besi. Penggalian ini telah mengundang banyak pembicaraan. Kata teman sekolahku yang rumahnya cukup jauh dari sekolah, angkutan kota yang membawanya menjadi sering diam, susah jalan. Karena jalanan semakin menyempit oleh tanah yang berasal dari galian. Ia sudah berusaha untuk datang tak terlambat. Jika detik jam sudah mendekat untuk menekan bel di sekolah, ia terpaksa turun dan mulai berlari dari angkot. Dengan tasnya yang besar karena tugas  guru-guru yang terus membludak, mungkin. Keringat turun ke pangkal kerah kemeja seragamnya. Sepatunya tak menggubris batuan atau kerikil yang menghalangi. Tapi tetap, meski sudah berlari sedemikian kuat, ia tetap harus diam terlebih dahulu di gerbang. Karena datang siang. Katanya, ia berangkat sama dengan jam-jam biasa. Sementara bagi warga pinggir jalan ini, penggalian itu tentu sedikit banyak merusak rumah mereka. Pagar-pagar yang telah dipulas sedemikian indah dengan warna yang sudah dikira, dipikir, agar kian indah nian rupa rumah mereka, rusak sedemikian saja oleh tanah basah yang semburat dari dalam tanah. Mungkin itulah satu-satunya cara tanah menangis, mengeluarkan kesakitan mereka. Sehingga sebagian dari mereka membiarkan rumah mereka rusak sementara. Selain mungkin karena biaya, mereka membiarkan dengan anggapan setidaknya rumah mereka dapat dijadikan bahu sandaran, bagi alam yang sedang ketakutan. Kata penggali, pipa ini untuk air minum masyarakat. Untuk kesejahteraan juga. Tapi mengapa harus mengorbankan kesejahteraan demi sebuah kesejahteraan baru yang belum tentu kita rasakan? Kata Kakek sih demikian. Suatu hari, ketika ia bercerita (lagi-lagi) tentang Amerika. Dan bangsa kita yang tunduk jadi budaknya.
      Tamu itu datang malam tadi. Bercerita bahwa penggalian hari ini akan sampai tepat di depan rumahku. Penggalian yang memakan banyak pengorbanan. Malam itu Kakek sedang di kamar. Kakek belum tahu. Tapi pagi ini juga, ia pasti akan tahu. Dan ia sedang bersamaku untuk menanam pohon di depan rumah yang akan segera dihancurkan.
      Mang Dadang, yang biasa membantu di rumah ini datang dengan membawa dua bibit pohon terompet cantik, dan dua bibit pohon yoiko. Katanya pohon itu mudah tumbuh membesar, hingga cepat meneduhi pekarangan atau jalanan. Tapi aku kira, pohon ini tak akan mampu tumbuh di tanah yang sedang terluka. Tanah yang sedang mereka gali dalam-dalam.
      Matahari menguning di rambut kakek yang putih. Mencahayai wajahnya yang sedang sumringah cerah. Mungkin karena sebentar lagi ia akan menanam pohon harapan.
     “Jika nanti Kakek mati, tolong doakanlah Kakek selalu ketika kalian melihat pohon itu tumbuh depan rumah kalian. Meneduhi rumah kalian. Biarkan pohon itu tetap berada di depan sana. Biar Kakek tetap bisa meneduhi, menyegarkan kehidupan keluarga Kakek sendiri,” ucapnya sambil memegang parang untuk menanam harapan, sekaligus kenang-kenangan.
      “Hus, jangan berbicara seperti itu Kek. Jika memang waktunya sampai, kita tentu akan merawatnya agar terus tumbuh kebaikan Kakek di hati kami. Dan tentu doa-doa akan selalu kami larungkan ke sungai surga tempatmu tinggal kelak. Amiin. Kali ini aku bisa memuji. Mungkin pujian ini dapat menjadi obat ketika nanti ia terlukai. Kita berjalan pelan dan sudah mulai sangat dekat dengan pintu pagar. Aku mencoba memperlambat. Apalagi ketika suara mesin itu mulai meradang. Tapi tangan kakek mulai menyentuh tangkai pagar. Ia mulai membuka. Aku menggandeng erat tangannya. Dan matanya, kini telah sampai, melihat segala yang aku takutkan. Penggalian pipa itu, kini tepat berada dihadapannya.
      Raut keningnya yang sumringah, berubah menjadi raut wajah gelisah. Ia hanya diam. Menantang matahari yang mulai naik dari timur. Menantang para penggali hitam besar. Ia diam. Terlihat sekali tubuhnya mulai melemah. Ia memegangku erat. Seperti menyampaikan sebuah pesan isyarat. Isyarat kepedihan dirinya.
     Jalanan mulai memadat. Hitam aspal berubah menjadi warna-warni kendaraan. Merah lebih dominan, warna kendaraan yang mengangkut banyak siswa hingga berjejal. Asap dari bepuluh pipa knalpot semakin membumbung ke udara. Suara gemuruh mesin beradu dengan denting linggis yang terus memecah kokoh batu-batu. Keringat penggali mulai meruap. Beradu kuat dengan keringat tegang para siswa yang keluar dari sela-sela jendela angkutan kota. Waktu terus mendetakkan tubuhnya. Tanpa ampun. Jalanan semakin padat dengan berbagai kendaraan, Terisi sudah tubuh jalan yang kian menyempit ini. Seolah tak mau dikalahkan waktu. Klakson mulai saling bersahutan. Tapi klakson tak mampu memperlebar jalan. Motor menyelip setiap kesempatan. Seorang Ibu di seberang sana berjalan sangat cepat. Dengan dua tas sayuran besar ditangannya. Ada seorang pemulung menonton bengong. Baginya mungkin ini sebuah hiburan. Dari arah jalan yang lain mulai masuk truk kuning yang amat gagah. Tapi tak indah.Truk pengangkut sampah.Ia masuk seolah semuanya dapat menyingkir padanya.
     “Inilah Amerikanya Indonesia, Nak.” Pegangannya semakin kuat .Ia berkata sambil tersenyum sinis. “Lihat..” katanya sambil menunjuk ke arah bawah.
      Pasukan penggali ada yang datang lagi. Mereka mengangkut pipa sediameter pohon jati tua.Menyeruduk kendaraan-kendaraan. Mereka memang yang kini berkuasa di jalanan. Klakson dan amarah makin mengerang. “Minggirr woyyy!” kata salah seorang sopir angkot dengan urat lehernya yang kian kuat. Depan mataku kini sudah berubah pula baunya dari truk pengangkut sampah yang ikut meramaikan. Waktu di jam tangan menggeliat pegal. Kulihat semakin mendekat ke pukul tujuh.
    “Kasihan teman-temanmu yang berangkat sekolah itu, Nak.” Airmatanya mulai menetes pelan. Clak. Clak. Clak. Ke pipinya yang sudah berlekuk-lekuk.
     Suara klakson. Suara knalpot. Suara teriakkan. Ramai sekali. Sahut menyahut. Seperti hari kemerdekaan yang baru saja datang. Atau seperti suara pasukan dalam perang Diponegoro. Kini bertambah lagi, suara yang paling angker di jalanan. Suara sirine.
   “Kek, syukurlah ada polisi yang datang, mungkin akan mengamankan,” kataku dengan sedikit pengharapan kemacetan akan segera usai.
       “Bukan Nak. Lihat ke bawah jalan sana! Itu ambulan!”
      Ahoi.. Indah nian pagi ini. Ambulan pun ikut meramaikan. Ia seolah tak mau kalah hadir dalam karnaval paling sakral ini. Ia mencoba menyeruduk. Tapi tak ada yang ikhlas mengalah. Semuanya sudah lelah dalam kepadatan yang edan. Jarum seperti berputar kian cepat. Hingga ia menyerah pada pukul tujuh. Siswa turun dari angkutan. Seperti geromboloan semut yang akan memburu gula-gula. Mereka berlari. Mulai menyusuri sela-sela kekosongan diantara kendaraan ke tengah jalan. Berdesakkan di trotoar. Mereka berteriak “cepaat..cepaat..”. Kendaraan semakin mengerang. Mengeluarkan bau tubuh hitam ke udara. Seperti sudah akan bertemu ajalnya. Sampah dari truk itu tumpah ke jalan. Menimpa sebuah motor. Terjadi ketegangan disana. Diamarahinya sopir truk, dan dipungkas dengan pukulan pada bagian pipi. Sopir tak melawan.
     Dentuman dari penggalian terus menggila. Batu-batu kian kokoh. Tanah mulai melakukan perlawanan. Sirine Ambulan yang tadinya melengking merambat ke awan, ke langit, kini mulai memadam. Ambulan itu menurunkan pasiennya, dibawa dengan tandu. Beberapa orang terlihat menggotong dan mulai berlari ke jalanan yang agak lengang. Ia berlari diantara derap kaki para siswa yang takut terlambat datang. Diantara Ibu-ibu yang akan pergi ke pasar. Diantara kendaraan yang sudah kian memucat .Tandu itu terus diusung. Melewati mataku. Ia nenek-nenek yang terisak. Dadanya seperti sangat sesak. Airmatanya mulai meleleh. Beberapa orang dibelakangnya, yang tadi mengikutinya, berhenti depan rumahku. Depan para penggal makian telah dilemparkan sekian kali. Tapi tak digubris pria-pria bertubuh besar itu. Mereka terus menggali. Mungkin mereka tak mengerti. Mereka hanya mengerjakan perintah pimpinan. Tapi kesabaran sudah terlahap amarah. Dipukulinya para penggali itu oleh mereka, sopir truk yang tadi dipukul ikut turun, ingin membalas sakit, ikut memukuli. Sebagian pengendara motor. Sebagian siswa yang geram. Penggali dipukuli warga! Ibu-ibu melemparkan sayurannya. Sementara dari bawah sana datang penggali lain membela. Mereka mengacung-ngacungkan linggis. Orang gila di seberang sana girang. Pertunjukkan semakin ramai. Jalanan berubah menjadi medan pertarungan.
      “Aku mencintai negeri ini, Nak.” Kakek berkata. Airmatanya sudah melimpah ruah. Tubuhnya rubuh. Ia terisak. Dadanya mulai sesak, yang aku takutkan datang. Kakek jatuh sakit.

Rabu, 12 Maret 2014

Tugas Bahasa Indonesia

 CURHAT

Udah lama gak nengokin blog, jadi kangen sama blog ini haha :D Langsung aja cerita ahh gausah berbelit-belit, kelamaan ntar :D Hari ini tanggal 27 Februari 2013, hari ketiga Uji Coba Ujian Nasional tingkat kabupaten, dan mapelnya adalah matematika -___- jujur aja soalnya gampaaaaaaaang banget *tapi boong banget* sampe gabisa ngerjainnya haha, akhirnya yaa biasalah tanya-tanya temen dikit gpp lah hehe. Tapi yaa tetep aja masih kosong banyak banget, sama-sama gabisa ngerjainnya sihh :D akhirnya waktunya abiss sialnya loembar jawabku masih banyak yg kosong -___- jadinya yaaa dijawab D semua ajadehh, siapa tau ada yg bener kan lumayan jugaa :D. Abis Uji Coba biasalah sama temen-temen nongkrong dulu di Jangkep, tempat nongkrongnya anak-anak cowok smansa, disitu semua temen-temenku kelas 12
pada ngumpul semuanya, biasalah mulutnya mereka sukanya ceplas-ceplos jadinya ya bikin ketawa ajahh kalo lagi sama temen-temen, malah gayeng :D singkatnya ada yg ngajakin maen bola, siang-siang jam 10an -__- panas matahari nyengat banget, gak ada angun yg bikin sejuk, ahh siall, tapi mau gimana lagi, kalo sama temen-temen ki bawaannya seneng ajahh, hepi terus dahh :D akhirnya maennya selese sekitar jam 12an lebih dikit lah, soalnya abis adzan dzuhur juga sihh jadinya agak tau waktu. Singkatnya ajalah sama apa yg mau aku ceritain, lama dehh rempong banget kayaknya -__- ceritanya dia bm aku, trus bilang semuanya sejujur-jujurnya dia :) kalo aku sihh gapapa ya, udah gak terlalu berharap banget sih sama dia (kayaknya) aku juga bisa ngerti kalo aku yg gak pantes buat dia, udah beda kelas lah istilahnya, ibarat kata kalo dia makannya minimal di KFC, kalo aku yaa terima puasa gak makan aja :) aku sihh ngerasanya kayak gitu, jadinya aku sadar diri aja siapa aku, siapa dia :). Aku juga udah ngerelain dia kok, udah gak maksa sama ngejar dia lagi, aku harus bisa dong lebih dewasa lagi, harus bisa ngertiin orang dong yaa? Sekarang aku pengennya sama dia ki masih jaga komunikasi aja, masih temenan gak jadi musuh, banyak kan abis putus trus malah jadi musuh, aku gamau sampe kayak gitu, gak baik, dosa juga mutusin tali silaturahmi. Sekarang sihh udah ada di jalannya masing-masing yaa, semoga semuanya bisa dapet yg terbaik amiin. Sekarang aku baru ngerti kalo cinta itu gak harus memiliki :)

Tugas Bahasa Indonesia

"Spesies" Galaksi Merona di Kedalaman Angkasa


Astronom menemukan empat galaksi merona di kedalaman angkasa, berjarak 13 miliar tahun cahaya dari Bumi. Galaksi itu dikatakan merona karena warna yang ekstrim merah.

Saking merahnya, empat galaksi itu tak bisa terdeteksi oleh teleskop Hubble. Astronom mesti menggunakan Teleskop Spitzer yang sensitif dengan cahaya inframerah.

"Kami harus menuju ke yang ekstrim dalam mendapatkan model untuk menyesuaikan dengan observasi ini," kata Jiansheng Huang, peneliti dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics (CfA).

Huang ialah pimpinan dari penelitian yang dipublikasikan di Astrophysical Journal. Huang melihat bahwa dalam pengamatan Spitzer, empat galaksi itu tampak 60 kali lebih terang daripada pengamatan Hubble.

Galaksi bisa tampak begitu merona oleh beberapa sebab. Pertama, mereka mungkin punya banyak debu. Kedua, mereka memiliki banyak bintang tua. Dan ketiga, mereka mungkin sangat jauh. Alasan pastinya belum diketahui.

Keempat galaksi tersebut terletak berdekatan dalam pengamatan Spitzer. Menurut prediksi Huang, karena berjarak begitu jauh, galaksi yang terlihat adalah pada masa awal setelah Big Bang.

"Hubble menunjukkan pada kita bukti protogalaksi yang terbentuk, tapi tak ada yang terlihat seperti ini. Galaksi ini mungkin "missing link" dalam evolusi galaksi," ungkap Giovani Fazio, peneliti lain yang juga dari CfA.

Tahap selanjutnya dari penelitian ini, ilmuwan akan mengukur lebih akurat tingkat merah dari galaksi ini. Penelitian itu membutuhkan teleskop yang lebih kuat, seperti Atacama Large Millimeter Array di Chile.

Ilmuwan juga akan mencari galaksi lain yang satu "spesies" dengan keempat galaksi itu. "Ada bukti tentang keberadaan yang lain di zona langit yang lain. Kami akan menganalisa dengan Spitzer dan Hubble," lanjut Fazio seperti dikutip Physorg, Kamis (1/12/2011).

Tugas Bahasa Indonesia

10 Ilmuwan Kimia Paling Berjasa Di Dunia


1. John Dalton (1766-1844)
Dalton adalah pencetus teori atom modern pertama yang menyatakan bahwa materi terdiri atas atom yang tidak dapat dibagi lagi. Tiap - tiap unsur terdiri atas atom-atom dengan sifat dan massa identik, dan senyawa terbentuk jika atom dari berbagai unsur bergabung dalam komposisi yang tetap.

2. Amadeo Avogadro (1776-1856)

Avogadro adalah seorang ilmuwan dari italia yang mencetuskan hukum Avogadro melalui hipotesisnya bahwa "pada tekanan dan suhu yang sama, gas-gas yang bervolume sama mempunyai jumlah partikel sama".



 
3.Humphry Davy(1778 - 1829)

Davy adalah seorang ilmuan asal Britania yang berhasil mengekstraksi logam sodium dan potasium dari hidroksidanya melalui elektrolisis. Dia dikenal sebagai perintis elektrolisis dari hasil penelitiannya tersebut.




4.James Prescott Joule(1818 - 1889)

 Siapa yg tak kenal orang yg satu ini, beliau dikenal sebagai fisikawan sekaligus kimiawan asal Inggris yg merumuskan hukum Kekekalan Energi, yg berbunyi "Energi tidak dapat diciptakan ataupun di musnakan".


 
 

 
5.John Tyndall(1820 - 1893)

John Tyndall adalah seorang ilmuan inggris yang mengemukakan peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid yang dikenal dengan Efek Tyndall. Efek Tyndall dapat di gunakan untuk membedakan sistem koloid dan larutan sejati.
 

6.Friedrich Kekule(1829 - 1896)

Ahli kimia yang dikenal sebagai dewa cincin karena berhasil mengungkapkan bagaimana enam atom karbon molekul benzena berikatan dengan enam atom hidrogen.




7.Sir William Crookes(1829 - 1919)


Beliau adalah Ilmuan dari inggris yang berhasil mengemukakan bahwa sinar katode merukana partikel-partikel yang bermuatan negatif, mempunyai massa, dan dimiliki oleh semua materi.

8.Dmitri Mendeleev(1834 - 1907)

Mendeleev adalah seorang kimiawan yang berasal dari Rusia. Beliau berhasil menyempurnakan Sistem Periodik Unsur. Mendeleev menciptakan sistem periodik unsur berdasarkan peningkatan bilangan atom. Bilangan ini menunjukan jumlah proton yang terdapat dalam inti atom. jumlah proton sama dengan jumlah elektron yang mengelilingi atom bebas.



9.Henri Louis Le Chatelier(1850 - 1960)

Beliau seorang ahli kimia dari Prancis yang melakukan penelitian mengenai kesetimbangan kimia, dan memgemukakan prinsipnya mengenai kesetimbangan yaitu "jika terhadap sesuatu kesetimbangan dilakukan aksi tertentu,maka kesetimbangan itu akan bergeser untuk menghilangkan pengaruh aksi tersebut".

 

10.Svante Arrhenius(1859 - 1927)

Arrehenius adalah seorang ilmuan Swedia yang mendapat hadia nobel atas karyanya mengenai Ionisasi. Dia mengemukakan bahwa senyawa dalam larutan dapat terurai menjadi ion-ion nya, dan kekuatan asam dalam larutan aqua tergantung pada konsentrasi ion-ion hidrogen di dalam nya.